©2018 Учебные документы
Рады что Вы стали частью нашего образовательного сообщества.

Wallahul muwaffiq - Dien itu nasehat

Wallahul muwaffiq.


1 Diriwayatkan oleh Muslim, Shahih Muslim bi Syarhin Nawawiy 2/37, Abu Dawud 4944, an-Nasa`iy 7/ 156, dan Ahmad dalam Musnad 4/102. Kesemuanya dari hadits Tamim ad-Dariy ra. Diriwayatkan juga dari sahabat Abu Hurairah ra oleh at-Tirmidziy 1926, an-Nasa`iy 7/157, Ahmad 2/297, dan dinyatakan shahih oleh Syekh Ahmad Syakir. Ada juga hadits dengan topik yang sama diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, dan Tsauban ra. Al-Bukhariy di dalam Shahihnya, Kitabul Iman 1/137 (Fathul Bari) mencantumkannya sebagai hadits mu’allaq (tanpa sanad). Ibnu Hajar menukil dari al-Bukhariy dari kitab at-Tarikh katanya, “Tidak ada riwayat yang shahih selain dari Tamim.”

2 Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq sebagaimana disebut oleh Ibnu Hisyam di dalam as-Siratun Nabawiyyah 2/375 terbitan Mushthafa al-Halbiy tahun 1375 H.

3 Diriwayatkan oleh Abu Dawud 2357, ad-Daruquthniy 2/185, al-Baihaqiy dalam as-Sunanul Kubra 4/239, al-Hakim dalam al-Mustadrak 1/422 dan berkata, “Shahih menurut syarat al-Bukhariy dan Muslim.” Kesemuanya dari hadits Ibnu ‘Umar ra.

4 Senada dengan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim 17/149, Ahmad 3/203, dan Ibnu Majah 4321 dari Anas bin Malik ra berkata, “Bahwa Rasulullah saw bersabda -lafazh Muslim-, ‘Akan didatangkan seorang ahli neraka dari penduduk dunia yang paling banyak mendapatkan nikmat dunia, lalu ia dicelupkan ke dalam neraka dan ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu mendapati sesuatu yang baik? Apakah kamu pernah merasakan suatu kenikmatan?’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, tidak wahai Rabbi.’ Lalu didatangkan seorang ahli surga dari penduduk dunia yang paling banyak mendapatkan musibah, lalu dicelupkan ke dalam surga dan ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu mendapati sesuatu yang buruk? Apakah kamu pernah merasakan suatu kesulitan?’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, tidak wahai Rabbi. Tidak pernah aku dapati sesuatu yang buruk, dan tidak pula aku rasakan suatu kesulitan, sama sekali.’”

5 Ungkapan ini senada dengan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy 3/203,235, Muslim 13/24, dan at-Tirmidziy 1640 dari hadits Anas bin Malik ra Lafazh hadits yang dimaksud adalah lafazh al-Bukhariy yaitu, ‘Tidak ada seorang pun yang masuk surga mengangankan dikembalikan ke dunia, bahwa seluruh yang ada di muka bumi menjadi miliknya, selain orang yang mati syahid. Sesungguhnya dia mengangankan kembali ke dunia lalu terbunuh sepuluh kali, disebabkan ia menyaksikan karamah.’ Dalam riwayat Muslim, ‘... karena menyaksikan keutamaan mati syahid.’ Diriwayatkan pula oleh an-Nasa`iy di dalam al-Jihad 6/35 dari hadits ‘Ubadah bin Shamit ra semisal dengannya.

6 Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 3/335, Muslim 7/144, Abu Dawud 1644, at-Tirmidziy 2024, an-Nasa`iy 5/96, Imam Ahmad 3/12,93, Malik dalam Muwatha’ 1945, ad-Darimiy 1653, dan al-Baihaqiy dalam as-Sunan al-Kubra 4/195, kesemuanya dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. Adapun lafazh al-Bukhariy adalah sebagai berikut, “Beberapa orang sahabat Anshar meminta kepada Rasulullah saw lalu beliau memberinya. Sahabat meminta lagi, dan beliau memberinya. Lalu sahabat meminta lagi, dan beliau pun memberinya, sampai akhirnya habis sudah apa yang beliau miliki. Kemudian beliau berabda, ‘Apa pun kebaikan yang ada padaku, sekali-kali aku tidak akan menyimpannya dari kalian. Barangsiapa menjaga dirinya niscaya Allah akan menjaganya. Barangsiapa selalu merasa cukup niscaya Allah akan mencukupinya. Barangsiapa berusaha untuk sabar niscaya Allah akan membuatnya sabar. Dan tidak ada sesuatu yang diberikan kepada seseorang itu yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.’”

Dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa berusaha untuk bersabar niscaya Allah akan menyabarkannya.”



7 Shaidul Khathir, Ibnu al-Jauziy hal. 107. terbitan Darul Fikr, Damaskus

8 Shaidul Khathir hal. 87

9 Adalah hadits riwayat at-Tirmidziy 1668, an-Nasa’iy 60/36, Ibnu Majah 2802, Imam Ahmad 2/297, dan ad-Darimiy 2413 dari hadits Abu Hurairah ra. Terjemahannya sebagai berikut, “Seorang yang syahid itu tidak merasakan sentuhan kematian selain seperti seseorang dari kalian yang merasakan sentuhan cubitan.” (lafaz hadits riwayat at-Tirmidziy)

10 al-Wabilush Shayyib, Ibnul Qayyim hal.5 terbitan Ri`asah Idaratul Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta`.

11 Shaidul Khathir, Ibnul Jauziy hal. 93

12 Seperti disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud ra yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad, “...Lihatlah, Hamzah telah dirobek perutnya lalu Hindun mengambil hatinya, dikunyah-kunyahnya, namun ia tidak mampu memakannya..”

13 Diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dari Shalih bin Kaisan seperti tersebut di dalam as-Siratun Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, vol. II/91

14 Disebutkan oleh Ibnu Hisyam dari Abu Ishaq dalam as-Siratun Nabawiyyah vol. II/79

15 Shaidul Khathir, Ibnul Jauzi hal. 257-261

16 Rujuk kembali tafsir surat al-Anfal : 5

17 Hadits dengan redaksi di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad 2/295, Abu Dawud 4654, Hakim menshahihkannya dalam al-Mustadarak 4/77, dan disetujui oleh adz-Dzahabiy. Semuanya dari Abu Hurairah ra. Syekh Ahmad Syakir mengatakan, “Isnadnya shahih.” Sedangkan dengan redaksi “Kiranya Allah telah mencermati..” diriwayatkan oleh al-Bukhariy 7/305, Muslim 16/56, Abu Dawud 2650, at-Tirmidziy 3305, Ahmad dalam Musnad 1/80, dan al-Baihaqiy dalam as-Sunanul Kubra 9/147, semuanya dari hadits ‘Ali bin Abu Thalib ra. Ada juga hadits yang senada yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, dan Jabir bin ‘Abdullah ra, semuanya shahih.

18 Diriwayatkan oleh al-Baihaqiy, sebagaimana tersebut dalam al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir 6/305. Di dalam Kanzul ‘Ummal 3/129 disebutkan bahwa sanadnya hasan.

19 Lihat : Mihnah Imam Ahmad dalam al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir 10/267-274, juga 330-340.

20 Shaidul Khathir, Ibnul Jauzi hal. 103-104

21 Shaidul Khathir, Ibnul Jauzi hal. 103

22 Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya` dengan lafaz yang mirip 2/149, juga oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah 9/273.

23 Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy 2472, Ibnu Majah 151, dan Ahmad dalam Musnad 3/120,286 dari Anas bin Malik ra. Lafaz at-Tirmidzi adalah

لَقَدْ أُخِفْتُ فِي اللهِ وَمَا يُخَافُ أَحَدٌ وَلَقَدْ أُوْذِيْتُ فِي اللهِ وَمَا يُؤْذَى أَحَدٌ



Aku telah ditakut-takuti di jalan Allah sebelum ada yang ditakut-takutii. Aku telah dianiaya di jalan Allah sebelum ada yang dianaya.

Hadits ini juga dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albaniy



24 Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/398 dari Anas ra, “Ketika Shuhaib ra keluar dari Mekah untuk berhijrah, para penduduk Mekah mengikutinya. Shuhaib meraih kantung anak panahnya dan mengambil 40 batang anak panah seraya berkata, ‘Jangan mendekat, atau masing-masing kalian akan mendapatkan sebatang anak panah ini, lalu aku mencabut pedangku dan kalian akan tahu bahwa aku benar-benar laki-laki! Aku telah meninggalkan dua orang budak di Mekah, keduanya untuk kalian.’ Lalu Allah menurunkan firman-Nya

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ



Dan di antara manusia ada yang menjual nyawanya demi mengharapkan keridlaan Allah.

Ketika Shuhaib memasuki Madinah dan Nabi melihatnya, beliau saw bersabda, ‘Wahai Abu Yahya, perniagaanmu benar-benar beruntung.’ Lalu beliau membacakan ayat di atas.”

Al- Hakim berkata, “Shahih sesuai dengan syarat Muslim.”

Diriwayatkan pula oleh al-Baihaqiy dari Shuhaib seperti tertera dalam al-Bidayah 3/173 dan ath-Thabrani. Di dalam Majma’uz Zawaid 6/60, al-Baihaqiy berkata, “Ada beberapa perawi yang tidak saya kenal.”

Hadits di atas juga diriwayatkan secara mursal dari Sa’id bin Musayyib oleh Abu Sa’ad dalam ath-Thabaqat, 3/162, Ibnu ‘Abdulbarr dalam al-Isti’ab 2/180; dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya`1/152.

Hadits ini banyak sekali ‘syahid’nya, sehingga ini menunjukkan kebenarannya.



25 Diriwayatkan oleh al-Hakim dari jalur ‘Uqail dari az-Zuhriy dari Isma’il bin ‘Abdullah bin Ja’far dari ayahnya seperti tersebut di dalam al-Ishabah 10/331. Ini adalah contoh sanad yang shahih dari hadits-hadits mursal shahabi. Yang seperti ini diterima oleh para ulama. Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Msnad 1/62, ath-Thabraniy seperti tertera dalam Majma’uz Zawaid 9/293, dan Abu Nu’iam dalam Hilyatul Auliya` 1/140 dari jalur Salim bin Abu Ja’ad dari ‘Utsman ra. Al-Haitsmiy dalam Majma’ mengatakan bahwa para perawi hadits ini terpercaya. Hanyasaja, hadits dengan sanad tersebut munqathi’, karena Salim tidak pernah mendengar dari ‘Utsman.

Diriwayatkan pula oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/388, ath- Thabarani dalam al-Mu’jamul Awsath 1531, al-Baihaqiy ~seperti tersebut dalam al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir 3/59~, dan adz-Dzahabiy dalam Tarikh Islam 1/129 dari Abu Zubeir dari Jabir ra.

Di dalam Majma’uz Zawaid, al-Haitsamiy mengatakan, “Para perawinya orang-orang yang shahih selain Ibrahim bin ‘Abdul’aziz, ia seorang yang dapat dipercaya.”

Al-Hakim berkata, “Ini shahih sesuai dengan syarat Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya.”

Adz-Dzahabi menyepakati al-Hakim.

26 Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 5/306, Abu Dawud 4595, an-Nasa`iy 8/26, Ibnu Majah 2649, dan Ahmad dalam Musnad 3/128 dari Anas bin Malik ra. Terjemahan lafaz al-Bukhariy sebagai berikut, “Adalah Rubayyi’ ~putri Nadlar~ mematahkan gigi depan seorang anak perempuan. Keluarga Rubayyi’ meminta agar keluarga anak perempuan itu mau menerima uang tebusan dan memaafkan, namun mereka menolaknya. Maka mereka mendatangi Rasulullah saw dan Nabi pun memerintahkan qishash. Anas bin Nadlar berkata, ‘Haruskah gigi depan Rubayyi’ dipatahkan wahai Rasulullah? Tidak, demi yang telah mengutusmu dengan benar, gigi depannya tidak akan dipatahkan!’ Rasulullah membalas, ‘Wahai Anas, Allah memajibkan qishash.’ Setelah itu, keluarga anak perempuan itu ridla dan mau memaafkan. Maka Nabi saw bersabda, ‘Di antara sekian hamba Allah ada yang jika bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.’”

Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim 11/162 dari hadits Anas dengan perbedaan orang yang mematahkan dan orang yang bersumpah. Para ulama mengatakan, ‘Riwayat yang lebih terkenal adalah riwayat al-Bukhariy.’ Imam an-Nawawiy berkata, “Memang ada dua kejadian yang melibatkan orang yang berbeda.”



27 Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 7/99 dari Jabir bin ‘Abdullah ra katanya, “‘Umar pernah berkata, ‘Abu Bakar tetua kita telah membebaskan tetua kita.’ Maksudnya Bilal.”

28 Sufyan ats-Tsauriy mengatakan, “Khalifah itu ada lima; Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan ‘Umar bin ‘Abdul’aziz.”

Penuturan yang semisal diriwayatkan dari Mujahid dan Imam Ahmad. Bahkan kabarnya Sa’id bin Musayyib berkata, “Khalifah itu ada tiga; Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Umar”

Maksudnya ‘Umar bin Khathab dan ‘Umar bin ‘Abdul’aziz.

Baca kembali sirah beliau dalam karya Ibnul Jauzi hal. 59-60 cet. al-Muayyad tahun 1331 H.



29 Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 7/122, Muslim 16/12, at-Tirmidziy 3848, Ibnu Majah 158, dan Ahmad dalam Musnad 3/296 dari Jabir bin Abdullah ra. Tentang ini ada juga hadits dari Anas bin Malik, Usaid bin Hudlair, Asma` binti Zaid, Rumaitsah, dan selain mereka. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar berkata, “Hadits tentang berguncangnya ‘Arsy ar-Rahman karena Sa’ad bin Mu’adz ini diriwayatkan oleh lebih dari sepuluh orang sahabat.” (Fathul Baari 7/124)

30 Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy, 3010 daan ia menshahihkannya. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, 190, lafazh di atas lafazhnya, Ahmad, 361, dan al-Baihaqiy dalam Dalailun Nubuwwah 3/129 dari Jabir bin ‘Abdullah ra katanya, “Ketika ‘Abdullah bin ‘Amru bin Haram terbunuh dalam perang Uhud, Rasulullah saw bersabda, ‘Wahai Jabir, maukah kamu aku beritahukan apa yang Allah katakan kepada ayahmu?’ ‘Tentu saja, wahai Rasulullah.’, jawabku. Lalu Rasulullah berkata, ‘Allah selalu berbicara dengan siapa pun dari balik hijab, tetapi Dia berbicara dengan ayahmu secara langsung. Dia berkata, ‘Wahai hamba-Ku, mintalah sesuatu kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya!’ Ayahmu berkata, ‘Duhai Rabbku, hidupkan aku sekali lagi supaya aku bisa terbunuh di jalan-Mu untuk yang kedua kali.’ Lalu Allah menjawab, ‘Sesungguhnya, telah aku putuskan bahwa orang-orang yang meninggal dunia tidak akan kembali lagi ke sana.’ ‘Wahai Rabbku, kalau begitu, sampaikan keadaanku kepada orang-orang yang ada di belakangku.’, kata ayahmu. Maka Allah menurunkan firman-Nya,

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ



Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki. (Ali ‘Imran : 169)

Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syekh al-Albaniy.

Diriwayatkan juga oleh al-Hakim 3/203 dan ia berkata, “Isnadnya shahih, hanyasaja keduanya tidak meriwayatkannya.”

31 Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy, 2399 katanya, “Hadits hasan shahih.”

Diriwayatkan pula oleh Ahmad dalam Musnadnya 2/287 semisal dengannya dan dishahihkan oleh Syekh Ahmad Syakir. Al-Hakim juga meriwayatkannya dalam al-Mustadrak 4/314 dan berkata, “Shahih sesuai dengan syarat muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya.” Adz-Dzahabiy menyetujuinya.

Diriwayatkan pula oleh Imam Malik dalam al-Muwatha` 558, artinya: “Seorang mukmin akan terus ditimpa musibah; anaknya dan orang-orang dekatnya, sehingga ia berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa.”

32 Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 6/18, Muslim 13/47, Ahmad 3/137, dan ‘Abdullah bin Mubarak dalam Kitabul Jihad hal. 71 dari sahabat Anas bin Malik ra. Adapun lafazh al-Bukhariy terjemahannya sebagai berikut, “Nabi saw mengutus beberapa orang Bani Sulaim kepada Bani ‘Amir yang berjumlah 70 orang. Ketika mereka sampai pamanku, Haram bin Milhan, maju seraya berkata, “Saya akan maju terlebih dahulu, semoga mereka menjamin keamananku sehingga aku dapat menyampaikan pesan Rasulullah saw. Dan seandainya mereka menyerangku kalian masih berada di dekatku.” Maka Haram maju, dan mereka membiarkannya. Ketika ia menyampikan pesan dari Nabi saw tiba-tiba mereka memberi isyarat kepada seseorang dari mereka, lalu orang itu pun menyerangnya, melukainya. Haram berkata, “Allahu akbar, aku telah sukses, demi Rabb Kakbah.” Maka mereka segera menyerang sahabat-sahabatnya, membunuh mereka semuanya.

33 Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya` 1/103 dari ‘Utsman ra. Ibnu Hisyam menyebutkannya dalam sirah dari Ibnu Ishaq tanpa sanad (vol. I/370)

34 Diriwayatkan oleh Ibnu Mubarak dalam Kitabul Jihad dari bekas budak keluarga Khalid dari Khalid hal. 91, juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Qais bin Abu Hazim. Al-Haitsmiy berkata dalam Majma’uz Zawaid 9/350, “Para perawinya orang-orang yang terpercaya.”

35 Diriwayatkan oleh Muslim 13/45 dari Anas bin Malik ra. Diriwayatkan pula oleh Imam Malik dalam al-Muwatha` secara mursal 1005 dari Yahya bin Sa’id tanpa menyebut nama ‘Umair. Al-Bukhariy juga meriwayatkannya 7/354, juga an-Nasa`iy 6/23 dari Jabir bin ‘Abdullah ra tanpa menyebut ‘Umair dan disebutkan bahwa itu terjadi dalam perang Uhud. Ibnu Hajar berkata, “Kiranya, ada dua kejadian yang dialami oleh dua orang yang berbeda.”

36 Diriwayatkan oleh al-Bukhari 7/379, Ahmad 2/294, al-Baihaqiy dalam as-Sunanul Kubra 9/146 dari Abu Hurairah.

37 Diriwayatkan oleh al-Hakim 3/188, Ibnu Sa’ad dalam at-Thabaqat 3/149 dari Sa’ad bin Abu Waqqash. Al-Hakim mengatakan, “Isnadnya shahih.”

38 Diriwayatkan oleh al-Hakim 2/76 dan al-Baghawiy seperti tertera dalam al-Ishabah 2/287 dari Ishaq bin Sa’ad bin Abu Waqqash dari ayahnya. Al-Hakim berkata, “Shahih sesuai dengan syarat Muslim namun beliau dan al-Bukhariy tidak meriwayatkannya.” Ini disepakati pula oleh adz-Dzahabiy.

Diriwayatkan juga secara mursal dari jalan lain oleh ‘Abdullah bin Mubarak dalam al-Jihad hal. 74, al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/200, Abu Nu’aim dalam Hilyah 1/109 dari Sa’id bin Musayyib. Awalnya berbunyi “Ya Allah, aku bersumpah kepada-Mu” lalu Sa’id memaparkan hadits yang semisal dengannya dan berkata, “Sungguh, aku benar-benar berharap Allah tidak mengabulkan akhir doanya sebagaimana Dia telah mengabulkan awal doanya.” Al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits shahih sesuai dengan syarat al-Bukhariy dan Muslim seandainya tidak mursal.” Adz-Dzahabi mengomentari hadits ini sebagai hadits mursal yang shahih.



39 Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 7/411, Muslim 12/95, Ahmad dalam Musnad 6/142 dari ‘Aisyah ra

40 al-Ishabah, Ibnu Hajar 3/461.

41 Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 6/21, Muslim 13/48, at-Tirmidziy 3200, an-Nasa`iy, dan Ahmad dalam Musnad 3/194 dari Anas bin Malik ra. Di akhir hadits, Anas berkata, “Kami menyangka berkenaan dengannya dan orang-orang yang semisal dengannya ayat ini turun.

مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ



Di antara orang-orang beriman ada rijal yang memenuhi janji mereka kepada Allah.

42 Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 13/14, Ahmad dalam Musnad 3/11 dari Abu Hurairah ra.

43 Diriwayatkan oleh al-Baihaqiy seperti tertera dalam al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir 6/11.

44 Ibnu Sa’ad meriwayatkan dalam ath-Thabaqat 3/82 dari Muhammad al-‘Abdari dari ayahnya katanya, “Mush’ab bin ‘Umair dulu adalah seorang pemuda Mekah yang paling ganteng.”

45 Biografi Shalahuddin berjudul ‘an-Nawadir as-Sulthaniyyah wal Mahasin al-Yusufiyyah’ karya Baha`uddin yang lebih dikenal dengan Ibnu Syidad (633 H.) hal. 16 cet. Muhammad Shabih th. 1346 H.

46 Berkenaan dengan ini ada tiga atsar; dari Malik bin Dinar, Hasan al-Qishar, dan Musa bin A’yun.

Dari Malik bin Dinar katanya, “Ketika ‘Umar bin ‘Abdul‘aziz memerintah, para penggembala kambing di puncak-puncak gunung pernah bertanya, ‘Siapa khalifah shalih yang sedang memimpin manusia saat ini?’ Maka ada yang balik bertanya, ‘Bagaimana kamu bisa tahu tentang hal itu?’ Mereka menjawab, ‘Begini, jika seorang khalifah yang shalih memerintah, kami mendapati serigala dan singa enggan memangsa ternak kami.’”

Atsar ini setidaknya berderajat hasan. Di antara para perawinya ada Ja’far adl-Dlab’iy yang kabarnya cenderung kepada Syi’ah. Hanyasaja para imam ahli jarh wa ta’dil lebih cenderung untuk menguatkan hadits-haditsnya dan mengkategorikannya sebagai hadits hasan.

Atsar ini dan dua atsar tersebut di atas dapat dibaca dalam Hilyatul Auliya` karya Abu Nu’aim 5/255 dan dalam Sirah ‘Umar bin ‘Abdul‘aziz karya Ibnul Jauzi hal. 70 cet. Al-Muayyad th. 1331 H. dan dalam ath-Thabaqatul Kubra, Ibnu Sa’ad 5/386-387.



47 Ibnul Jauzi menyebutkan ini dalam Sirah ‘Umar bin ‘Abdul‘aziz hal. 99 dari Jabir bin Hanzhalah adl-Dlab’iy. Disebutkan bahwa yang menulis surat itu adalah ‘Adi bin Artha`ah.

48 Diriwayatkan oleh Abu Yusuf dalam kitab al-Kharaj hal. 142 dari para ulama Kufah dengan sedikit perbedaan lafazh.

49 Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari ‘Abdullah bin Kharijah bin Zaid bin Tsabit dari Saib bekas budak ‘Aisyah binti ‘Utsman. Sirah Ibnu Hisyam vol. 2/101. Dari al-Waqidiy, Ibnu Sa’ad dalam kitab ath-Thabaqat 3/21 menyebutkan bahwa ‘Abdullah bin Sahal dan saudaranya Rofi’ bin Sahal ra adalah dua orang yang turut keluar sampai di daerah Hamra`ul Asad dalam keadaan terluka parah. Salah satu dari mereka menggendong yang lain. Keduanya tidak memiliki binatang tunggangan.

50 Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 1/22, Muslim 2/204, Ahmad 6/223 dari ‘Aisyah ra

51 Thariqul Hijaratain wa Babus Sa’adatain, Ibnul Qayyim hal. 179. Mathba’ah Salafiyyah 1375 H.

52 Maksudnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad 2/176 yang dishahihkan oleh Syekh Ahmad Syakir dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash ra katanya, “Ketika kami berada di sekeliling Rasulullah saw dan asyik menulis, tiba-tiba beliau ditanya, ‘Kota manakah yang akan ditaklukkan terlebih dulu? Konstantinopel ataukah Roma?’ Beliau menjawab, ‘Kotanya Heraclius akan ditaklukkan lebih dulu.’ Yaitu Konstantinopel.

53 Diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam dalam as-Siratun Nabawiyyah vol. II/174 dari Ishaq dari Ibnu ‘Abbas ra

54 Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 1/21, Muslim 2/200, Ahmad 6/233 dari Aisyah ra

55 Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq secara mursal dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya sebagaimana dalam Sirah Ibnu Hisyam vol. 1/318. Diriwayatkan juga oleh Zubeir bin Bakar seperti disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam al-Ishabah 3/634, juga ‘Utsman dari Dlahhak bin ‘Utsman dari ‘Abdurrahman bin Abuz Zinad dari ‘Urwah bin Zubeir. ‘Utsman seorang yang dlaif.

56 Maksudnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad 2/176 yang dishahihkan oleh Syekh Ahmad Syakir dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash ra katanya, “Ketika kami berada di sekeliling Rasulullah saw dan asyik menulis, tiba-tiba beliau ditanya, ‘Kota manakah yang akan ditaklukkan terlebih dulu? Konstantinopel ataukah Roma?’ Beliau menjawab, ‘Kotanya Heraclius akan ditaklukkan lebih dulu.’ Yaitu Konstantinopel.

57 Nama asli kota ini Islambul, satu kata dalam bahasa Turki yang berarti Negeri Islam. Yang memberi nama itu adalah Sultan Muhammad al-Fatih. Kota ini pernah menjadi ibukota Khilafah ‘Utsmaniyah dan ‘monumen’ kemenangan ummat Islam. Namun Ataturk ~semoga Allah melaknatnya~ menjadikan Ankara sebagai ibukota Turki, menggantikan Islambul. Itu sebagai simbol dibangunnya Sekulerisme. Ataturk meninggalkan manhaj para pendahulunya semisal Muhammad al-Fatih. Ini selain berbagai upayanya dalam memerangi Islam.

58 Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 4/335 dai Bisyr bin Sahim Al-Khats’amiy ra

59 al-Kamil fit Tarikh, Ibnul Atsir 3/42

60 Muhammad bin Ishaq berkata, “Jumlah seluruh perang yang dikomandoi oleh Rasulullah saw adalah 27.” Lalu beliau menyebutnya satu persatu. al-Bidayah wan Nihayah 5/217

61 Diriwayatkan oleh Imam Muslim, at-Tirmidziy, dan Ahmad dari Abu Hurairah.

62 Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dishahihkannya 3699 dari ‘Abdurrahman as-Sulamiy. Di dalamnya ada kata-kata ‘Utsman ra, “Saya ingatkan kalian kepada Allah! Apakah kalian tahu bahwa Rasulullah saw bersabda perihal jaisy ‘usrah, ‘Siapa yang mau infaknya diterima?’ Saat itu orang-orang dalam kesulitan, lalu aku membekali pasukan itu?” Mereka menjawab, “Ya.” At-Tirmidzi meriwayatkan juga dan menshahihkannya 3703, juga an-Nasa`iy 6/234 dari Tsumamah bin Hazan al-Qusyairiy. An-Nasa`iy meriwayatkan juga 6/47 dari Ahnaf bin Qais dan menyebutkan bahwa mereka yang hadir saat itu adalah ‘Ali, Zubeir, Thalhah, dan Sa’ad bin Abu Waqqash ra
?


tortinshitaraw---brayim.html

tortugas-marinas---filo.html

tortures-are.html

torulatabay---gney.html

toruturas-estilo-militar-.html